Teknologi baru untuk Memprediksi Gempa bumi
Teknologi baru ini adalah ATROPATENA yang mampu memprediksi gempa
Konsepnya yaitu Secara garis besar disampaikan bahwa setiap gempa bumi kuat yang terjadi selalu didahului dengan anomali gravitasi. Ini terjadi karena tingkat stress dari zona pusat gempa yang mencapai kondisi kritis menimbulkan adanya tekanan dan kompaksi batuan, atau regangan dan pengurangan densitas batuan. Selama stress mencapai kondisi kritis, massa mengalami retakan di sekitar zona pusat gempa dan menyebabkan adanya patahan pada seluruh batuan tersebut. Proses-proses deformasi yang timbul pada zona pusat gempa sebelum terjadi gempa akan menimbulkan zona-zona dengan densitas tinggi dan rendah, sehingga akan menimbulkan perubahan medan gravitasi. Disamping itu, adanya stress dalam kondisi kritis di zona pusat gempa ini dapat menimbulkan pergerakan fluida pada lapisan-lapisan bumi, yang sering dijumpai sebagai kenaikan dan penurunan muka air tanah.
Sampai saat ini, dikarenakan belum adanya alat yang mampu mendeteksi gempa bumi jangka pendek (biasanya panjang yang diperkirakan puluhan bahkan ratusan tahun kedepan), maka Prediksi Gempa Bumi Jangka Pendek masih didekati dengan hal-hal seperti: 1.perilaku binatang yang tidak normal (misal kuda, anjing, gajah, ikan, kelelawar, dll.); 2. melihat gejala alam ( Awan gempa, Variasi gelombang elektromagnetik, Variasi muka air tanah, Variasi konsentrasi gas radon dalam bumi, Variasi medan listrik, dan Variasi medan gravitasi). Hal – hal ini dipelajari secara mendalam oleh Khalilov.
Disampaikan pula, ATROPATENA mencatat perubahan medan gravitasi yang muncul menjelang terjadinya gempa bumi dengan menggunakan prinsip dasar Cawan Cavendish, yaitu sebuah percobaan mengenai gaya tarik menarik antar benda yang memiliki massa. Teori ini bahkan sudah dianggap “kuno” dan tidak pernah terpikirkan oleh ahli fisika bumi di Barat untuk dikaitkan dengan gempa bumi.
Kejadian gempa bahkan (menurut data grafis yang dipresentasikan tentang anomali gravitasi) dapat diperkirakan lebih kurang 1 minggu sebelumnya. Data variasi gravitasi yang dipresentasikan menunjukkannya seperti untuk gempa di Taiwan 15 Oktober 2004, Pakistan 14 Oktober 2005, termasuk gempa di jogja 27 Mei 2006 dan Samudera India tgl 17 Juli (Pangandaran). Alat ini mencatat variasi gravitasi yang sangat mencolok.
Disamping masih dalam tataran riset, pemantauan kejadian-kejadian gempa saat ini masih belum bisa menentukan lokasi pusat gempa karena stasiun monitor hanya ada satu di Baku, Azerbaijan. Sekarang sedang dipasang di Islamabad dan bulan depan di Jogja untuk mendapatkan bentuk segitiga yang nantinya, berdasarkan perhitungan trigonometri, lokasi pusat gempa akan bisa diperkirakan. Kalau substansi dari presentasi ini benar adanya, maka lompatan besar kemajuan teknologi akan berhasil dilakukan.
aditonal tags: teknologi untuk menehangempabumi, teknologi gempa bumi